Ini Kisah Rahasia Musa, Bocah 'Ajaib' yang Hafal 30 Juz Al-Quran
Seorang bocah
langsung berjalan menuju panggung. Saat melihat Musa, bocah kecil itu,
seorang panitia menghampiri dan menuntunnya dengan dua tangan, seolah
takut bocah itu terjatuh.
Kaki kursi itu masih lebih tinggi ketimbang kaki Musa, yang usianya masih belum genap 6 tahun. Belum lagi jenak duduknya dia melirik lagi ke arah tamu mencari-cari.
Bukan cuma dua kali, beberapa surat dari juz yang berbeda ternyata bisa dilibas dengan aman oleh Musa. Juri terperangah. Kagum. Sedangkan penonton ada yang tersenyum manggut-manggut meresapi lantuan ayat-ayat Alquran yang dibacakan Musa. Juri tak ragu lagi. Bocah asal Bangka Belitung, Indonesia itu dipastikan hafal 30 juz dalam Al Quran tanpa terkecuali.
Dari jarak 50 meter di depan panggung, ayah Musa yang sehari-harinya menjadi petani, justru terlihat tegang saat penampilan putra sulungnya itu.
Kata Hanafi, putranya tidak rewel saat berada di Jeddah selama 12 hari. Meski sang ibu, Yulianti, tidak ikut mendampingi ke sana. Sebelum tanding, sulung dari tiga bersaudara ini terus latihan mengasah kemampuan hafalannya. Cuaca terik tak mengendurkan semangat Musa. Dan hasilnya, luar biasa!
Berjalan menuju
deretan para juri yang sudah sepuh-sepuh, Musa tampak tegang. Dia
menoleh ke belakang melihat ke arah deretan tamu. Seketika senyumnya
mengembang. Senyum anak-anak.
Langkahnya
lebih pasti. Dia ambil kertas di depan meja dan diserahkan ke juri. Sang
panitia masih menuntunnya menuju kursi peserta lomba hafalan Quran
dunia yang digelar di Jeddah, 2014 lalu.
Kaki kursi itu masih lebih tinggi ketimbang kaki Musa, yang usianya masih belum genap 6 tahun. Belum lagi jenak duduknya dia melirik lagi ke arah tamu mencari-cari.
Rupanya dia
mencari ayahnya diantara deretan tamu. Sang ayah segera bergeser mencari
tempat duduk yang bisa terlihat langsung dari tempat duduk Musa. "Saat
itu tempat duduk saya terhalangi dekorasi panggung, jadi saya bergeser,"
kata Hanafi, ayah Musa mengenang kejadian itu.
Dari kertas yang ada di tangan, juri membacakan sebuah penggalan ayat dari Kitab Suci Al Quran..., lalu berhenti. Musa diminta melanjutkan. Si bocah itu melanjutkan dengan suara cadelnya secara lancar. Juri kembali membacakan surat yang lain. Kali ini Musa pun bisa melanjutkan tanpa kesulitan.
Dari kertas yang ada di tangan, juri membacakan sebuah penggalan ayat dari Kitab Suci Al Quran..., lalu berhenti. Musa diminta melanjutkan. Si bocah itu melanjutkan dengan suara cadelnya secara lancar. Juri kembali membacakan surat yang lain. Kali ini Musa pun bisa melanjutkan tanpa kesulitan.
Bukan cuma dua kali, beberapa surat dari juz yang berbeda ternyata bisa dilibas dengan aman oleh Musa. Juri terperangah. Kagum. Sedangkan penonton ada yang tersenyum manggut-manggut meresapi lantuan ayat-ayat Alquran yang dibacakan Musa. Juri tak ragu lagi. Bocah asal Bangka Belitung, Indonesia itu dipastikan hafal 30 juz dalam Al Quran tanpa terkecuali.
Dari jarak 50 meter di depan panggung, ayah Musa yang sehari-harinya menjadi petani, justru terlihat tegang saat penampilan putra sulungnya itu.
"Saat dipanggil
maju memang gugup. Karena ia tidak bisa jauh dari saya. Ketika dituntun
panitia ke panggung, ia selalu menengok melihat saya. Jadi saya
berusaha agar terlihat dia terus. Agar dia tenang. Alhamdulillah, ia
berhasil menyelesaikan hafalan dengan baik," kata Hanafi menceritakan
peristiwa membanggakan itu kepada Dream, Rabu 29 Juli 2015.
Juri sepakat
memberikan nilai istimewa, 90.83 dari angka 100 yang menjadi nilai
sempurna. Musa memang hanya menempati peringkat 12 diantara 25 remaja
lain yang menjadi peserta. Menurut juri, Musa kalah dari sisi penilaian
makhroj (lafal), karena masih cadel. Tapi dari segi hafalan, Musa memang
istimewa.
Menurut sang
ayah yang berprofesi sebagai petani, Musa saat tampil sedikit kelelahan,
karena ia tetap menjalani puasa Ramadan. Sedangkan peserta lain
rata-rata memilih tidak saum. "Tapi Musa tetap mau berpuasa. Jadi
mungkin ia agak capek," ujar Hanafi yang juga guru mengaji.
Kata Hanafi, putranya tidak rewel saat berada di Jeddah selama 12 hari. Meski sang ibu, Yulianti, tidak ikut mendampingi ke sana. Sebelum tanding, sulung dari tiga bersaudara ini terus latihan mengasah kemampuan hafalannya. Cuaca terik tak mengendurkan semangat Musa. Dan hasilnya, luar biasa!
Kemampuan ajaib
Musa rupanya 'menyihir' para ulama Negeri Petro Dolar itu. Mereka
sekeluarga diminta tetap tinggal di sana. Tetapi Hanafi menolak. Sebab,
keluarga Musa lebih kerasan tinggal di negeri sendiri.

Dari situ......
Makin Penasaran
Sekembali ke
Tanah Air, Musa kian sohor. Sebelumnya, ia sudah jadi 'buah bibir' saat
ikut lomba menghafal Alquran di salah satu stasiun televisi nasional.
Kala itu, ia baru bisa menghafal 29 juz Alquran.
Tapi aksi Musa
sungguh memukau. Juri dan penonton sampai meneteskan air mata, menangis
haru. Bahkan, salah satu juri, Amir Faishol, pakar tafsir Alquran,
spontan melangkah menghampirinya. Juri itu mencium tangan dan kening
Musa.
#555555; line-height: 1.5em;">
Tak heran
banyak orang makin penasaran dengan kemampuan bocah yang bercita-cita
menjadi pilot. Para orangtua bahkan ingin anaknya seperti Musa.
Undangan Musa
tampil sebagai bintang tamu di berbagai acara keagamaan serta pengajian
datang silih berganti. Tak cuma dalam negeri, tapi juga negera tetangga,
Malaysia.
"Diundang ke
Malaysia sepekan setelah pulang dari Jeddah. Di sana bertemu hafiz yang
sudah dewasa. Mereka kagum melihat langsung kemampuan Musa, karena
selama ini cuma bisa liat dari video saja," kata Hanafi.
Musa tidak
terbebani gelar hafiz yang kini disandang. Sebagaimana layaknya bocah,
dia sangat senang manakala disodori mainan. Selalu bergelayut manja di
kaki sang ayah, malu-malu ketika kebanjiran permintaan foto bersama oleh
warga saat menghadiri sebuah acara.
Lazimnya
seorang bocah, waktu bermain juga menjadi kebutuhan yang tak bisa
diabaikan. Untuk itu, setiap empat hari, orangtuanya meliburkan
pelajaran menghafal Alquran dan memberi Musa kesempatan bermain
seharian.
Saat rehat
menghafal, Musa bermain bersama dua adiknya, Luqman-Hindun serta
teman-teman di rumah. Dari main mobil-mobilan, kereta dan bola. Untuk
pendidikan, kMusa disekolah dengan metode homeschooling.
"Sempat dengar
ada komentar saya memporsir Musa. Musa seperti anak seumurannya. Ia
tetap diberikan waktu bermain dengan asupan gizi cukup. Tapi yang
terpenting ia selalu belajar agama, terutama Alquran."
Surat An Naas Diulang Ratusan Kali
Proses Musa
menjadi hafiz tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Sejak
usia dua tahun, ia telah diperkenalkan huruf-huruf hijaiyah. Metodenya
sederhana. Sang ayah hanya menempel satu atau dua huruf hijaiyah di
dinding untuk selalu diulang-ulang oleh Musa.
Setelah Musa
hafal, Hanafi mulai memperdengarkan kaset murottal (pembacaan) Alquran.
Setiap kali, ia menyetel kaset tersebut Musa ternyata senang. Sangat
antusias menirukan, kata pria 34 tahun itu mengenang.
Namun saat
beranjak usia 3,5 tahun, Musa pernah merasa bosan. Tak berbeda layaknya
anak seumurannya, ia lebih suka bermain dan kadang suka ngambek.
Musa yang kala
itu masih balita selalu menangis saat diajak mengaji. Namun sang ayah
tetap saja memberi Musa pelajaran menghafal Alquran dengan dibantu oleh
penghafal Alquran, Sabilar Rosyad.
Bagian pertama
yang diajarkan kepada Musa adalah surat terakhir Alquran, yakni An Naas.
Durasi Musa untuk menghafal Qul a’udzu birobbinnaas (ayat pertama surat
An Naas yang berarti;
Katakanlah, aku berlindung dari Tuhan manusia) butuh setidaknya satu pekan.
Saat berhasil
menghafal ayat kedua, Musa lupa bagaimana bunyi ayat pertamanya,
sehingga hafalan harus diulang dari awal. Surat An Naas itu mungkin bisa
ratusan kali diulang oleh ayahnya.
Metode talqin
atau membacakan hafalan hanya dilakukan selama dua tahun dan
menghasilkan hafalan dua juz 'saja', juz 30 dan 29. Ayahnya mengajari
Musa menghafal dari belakang, yakni dari juz 30 hingga 18. Kemudian, dia
melanjutkan pelajaran menghafal dari juz 1.
Di usianya yang
keempat tahun, Musa sudah bisa membaca Alquran sehingga proses hafalan
jadi lebih ringan dari sebelumnya. Musa mulai bisa belajar mandiri.
Setiap hari ia mampu menghafal 2,5 lebar (5 halaman) quran dan
diperdengarkan di depan ayahnya.
Peran sang ibu,
Yulianti juga sangat besar dalam membentuk Musa sebagai penghafal
Alquran dan Hadis. Saban hari Umi Yuli tak pernah melewatkan waktu
mengajar Musa. Padahal, pekerjaan rumah tangga lainnya yang juga berat
tetap dijalani sang bunda.
"Istri saya
mengajar Musa tidak pernah luput. Bahkan lahirnya Musa itu sepulang dari
majelis taklim. Itu saking semangatnya istri saya mengajar Musa," kata
Hanafi.
Kedua orangtua
Musa bukanlah hafiz. Mereka juga awalnya tidak yakin putranya mampu.
Namun, dia dan sang istri memantapkan niat untuk menjadikan Musa seorang
hafiz, karena Musa memiliki daya ingat sangat kuat.
"Insya Allah
saya dan istri bertekad menjaga Musa agar tetap bisa konsisten. Agar
Musa bisa bermanfaat untuk agama Islam dan umat Islam," kata pria
berusia 34 tahun, yang mengaku jika kedua adik Musa juga mengikut jejak
sang kakak sebagai Hafiz. (sumber: dream/beradab)
Baca juga: Tips Menghafal dari Ayah Musa, Bocah Penghafal Al-Quran
Baca juga: Tips Menghafal dari Ayah Musa, Bocah Penghafal Al-Quran

Komentar
Posting Komentar